eXTReMe Tracker

Download Film Umar bin Khattab 30 Serie Subtitle Indonesia


Jamil 21 - Bismillahirrahmanirrahim. Kali ini saya berbagi sebuah film yang patut anda tonton karena dijamin film ini sangatlah mendidik dan mengandung nilai - nilai positif yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari - hari. Film ini mengisahkan salah satu sahabat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yaitu Umar bin Khattab

Sinopsis Film Umar Bin Khattab (omar)
Menelusuri kembali ke era awal kehidupan Khalifah Islam kedua ini, figur pemuda berhati keras namun mempunyai kecerdasan di atas rata-rata. Cerita tentang seorang yang kelak menjadi pemimpin dengan pengaruh dan kekuasaan yang besar.

Karakter Umar juga tergambar sebagai pemimpin dengan moral mulia, pemimpin yang memastikan kesejahteraan kepada rakyatnya, dan memastikan kepastian hukum bagi siapapun.

Serial ini mengandung aspek dramatis yang sangat menarik. Penggambaran kondisi Mekkah saat itu juga digambarkan dengan sangat baik, kondisi psikologis masyarakat, bentuk kultur yang ada, hingga kondisi lingkungan kota Mekkah pada saat itu.


Walaupun terdapat banyak adegan-adegan perang yang epik, serial ini juga memiliki pesan-pesan penuh makna dan penuh adegan-adegan yang menggetarkan hati.

Screen shoot :






Berikut trailer Umar bin Khattab


Jika anda ingin menonton full filmnya, anda bisa mendownloadnya disini
(Ket : tunggu 5 detik dan klik Skip Ad)
Untuk subtitle Indonesia, klik disini.
Semoga bermanfaat. Wassalam

Tanpa Tangan dan Kaki Mampu menjadi Motivator Dunia

(Source : facebook.com)

Tanpa tangan dan kaki Mampu menjadi Motivator Dunia - Assalamu'alaikum dan selamat datang di blog sederhana ini. Kali ini saya posting mengenai seorang yang terlahir tanpa tangan dan kaki mampu menjadi seorang motivator dunia.

Nick Vujicic seorang motivator yang sama sekali tak memiliki latar belakang sebagai komunikator. Ia terlahir tanpa lengan dan kaki, bahkan sempat ingin bunuh diri di usia 8 tahun. Kegigihannya, didukung cinta kasih keluarga, membuat lelaki kelahiran Melbourne, 4 Desember 1982 itu mampu melanjutkan hidup.

Ia merampungkan sekolah dengan optimistis. Nick bahkan melanjutkan pendidikan sampai menggenggam dua gelar sarjana. Bachelor of Commerce untuk jurusan Akuntansi dan Perencanaan Keuangan. Adalah sang ayah, Boris Vujicic yang menginspirasinya untuk itu.

“Ayah saya yang mendorong saya belajar Matematika dan menjadi akuntan,” ujar Nick saat menjadi bintang tamu di Seputar Obrolan Selebriti (SOS) di Studio ANTV, Jumat, 23 Agustus 2013. Namun di usia 17 tahun, Nick mendapat pemikiran lain.

Itu bermula saat seorang kawannya menyebutkan, suatu saat nanti dirinya akan menjadi seorang pembicara. Ia tertawa. Baginya, itu mustahil.

“Gila, itu tidak mungkin!” sergah Nick waktu itu. Namun ia mulai mencoba berceramah di hadapan 300 orang untuk menularkan inspirasi. “Saya takut, kalau punya lutut mungkin keduanya sudah gemetar,” ia mengungkapkan.
Ceramah pertamanya itu menggetarkan. Hanya dalam beberapa menit, semua orang yang dihadapinya menangis. Seorang gadis bahkan mengangkat tangannya dan bertanya apakah ia boleh memeluk Nick.

Gadis itu berjanji, ia akan lebih bersyukur dengan hidupnya. Begitu pula dengan ratusan orang lainnya. Sejak itu, Nick tahu tujuannya. Ia ingin berbagi dengan seluruh orang di dunia, agar tak pernah menyerah.

“Melihat hidup seseorang berubah karena harapan dan Tuhan itu jauh lebih baik dari menjadi seorang akuntan,” ujarnya sambil tersenyum. Hingga kini, Nick telah berbicara di hadapan jutaan orang di lebih dari 40 negara.
Untuk lebih mengenal sosok Nick Vujicic, anda bisa kunjungi fb fans pagenya disini atau anda bisa kunjungi website resminya http://www.nickvujicic.com/.

Sekian dan terima kasih
Sumber : http://life.viva.co.id/news/read/438625-tak-punya-tangan-dan-kaki--dari-akuntan-ke-motivator-dunia

Kisah Inspiratif Een Sukaesih, Guru Berhati Mulia

Een Sukaesih (Guru berhati mulia) Sumber : google.com
Een Sukaesih tinggal di Dusun Batukarut, RT01 RW06, Desa Cibereum Wetan, Cimalaka, Sumedang, Jawa Barat. Warga mengenal baik sosok ‘Ibu Guru’ istimewa ini. Ya, karena ia seorang luar biasa, umumnya orang memberi di saat lapang, tetapi Een berbeda.

Dalam keterbatasannya, ia membantu menyiapkan masa depan orang lain dengan cara membagi ilmu dan kasih sayang, serta menjadi sahabat bagi anak didiknya.

Berikut ini adalah petikan kisah yang ia ungkapkan, dinukil dari Kabari News.

Alhamdulillah, Allah memberiku jalan sehingga boleh dibilang, aku telah meraih cita-citaku menjadi guru. Setiap hari, di kamar mungilku, mereka meriung sepulang sekolah.

Mereka membawa pekerjaan rumah. Bergantian, mereka membacakan surat kabar, majalah atau menonton televisi, lalu kami membahasnya bersama. Aku ingin mereka paham situasi yang berkembang di luar sana. Siapa sangka, dalam keterbatasan fisikku, aku bisa membagi ilmu, mengentaskan dari ketidaktahuan menjadi tahu.

Kali lain anak-anak membuat rujak di kamarku, atau membuat es durian yang segar. Bahkan anak-anak perempuan minta diajarkan menari. Padahal, aku, menggerakkan tangan saja, aku tak sanggup.

Yah, itulah kesibukanku sehari-hari. Aku bahagia menjadi bagian dari perkembangan dan kemajuan mereka. Tak hanya itu, juga kutanamkan ajaran agama dan nilai-nilai kepribadian agar mereka menjadi pintar, juga berkarakter yang baik.

Seperti yang dilakukan Een pada Layla, yang sempat mogok sekolah diledek sebagai teletubbies karena fisiknya tidak normal. Berhasil, Layla kini mahasiswi di Universitas Parahyangan Bandung, kampus Een dulu. Itulah sejatinya fungsi pendidik, seperti yang dilakukan Pak Rahmad, gurunya di SDN 1 Cimalaka.

Aku tak pernah menyangka begitu singkat waktuku mengecap kesehatan dan kebebasan bergerak. Praktis hanya sampai SMP aku bisa berlari riang dan bermain bola dengan teman-teman, sebab jelang tahun ajaran kelas III Sekolah Pendidikan Guru (SPG), sendi tanganku mulai terasa nyeri.

Kata dokter, rematik. Aku diberi obat, tapi itu hanya menghilangkan gejalanya sementara. Setelah obat habis, kambuh lagi, bahkan nyerinya menyebar ke lutut, siku, tengkuk, hingga persendian kecil seperti jari-jemari.

Aku ganti dokter dengan harapan mungkin mukjizat kesembuhan bisa kudapat. Nyatanya? Nihil! Ngilu dan nyeri masih kurasakan, sampai-sampai tangan kuikat ke pundak, mirip orang patah tulang, untuk mengurangi rasa sakit itu.

Dokter memberiku obat berdosis tinggi, 3×2 sehari, tapi sakitku bertambah parah. Aku tidak bisa bangun, bergerak atau berjalan. Rasanya seperti ditusuk-tusuk.

Dari hasil tes laboratorium 5 April 1982 dokter menyatakan Een menderita Rheumathoid Artitis. Belum ada obatnya. Hancur hati perempuan muda itu, dan mengucapkan selamat tinggal kepada cita-citanya menjadi guru. Gurunya yang tahu akan potensi Een tidak membiarkan siswa kesayangannya ini patah semangat. Ia sampai menahan ijazah Een demi memaksanya untuk ikut tes ke perguruan tinggi. Benar saja, Een lulus tes penyaringan dan diterima di Program Diploma 3 Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan di IKIP Bandung.

Umurku waktu itu 18 tahun, masih sangat muda untuk menyerah. Aku pun menguatkan diri, disokong oleh Kakek dan Nenek yang begitu luas kasihnya untukku. Aku kos di Bandung. Rutin mereka memperhatikan kebutuhanku, memberi vitamin, mengantarku ke dokter, membiayai keseharian dan pendidikanku. Kini mereka telah tiada. Hanya doa yang bisa kupanjatkan selalu untuk mereka sebagai tanda terima kasihku.

Singkat cerita, aku kuliah. Sebuah perjuangan yang berat dan panjang. Bagaimana tidak? Sendi-sendiku nyeri, sementara aku harus naik tangga atau menyusuri lorong yang jauh untuk mencapai perpustakaan. Karenanya, supaya tidak ketinggalan, aku lebih awal ke kampus dibanding teman-teman. Sedih bukan main, tapi aku harus optimis dan berusaha. Aku harus yakin Allah, Maha Penyembuh. Alhamdulillah, aku masih bisa mengetik sendiri, jadi tidak pernah minta tolong orang kalau ada tugas. Bersyukur Allah memberiku seorang sahabat setia, Mimin Suhaeti namanya. Ia menemaniku dan mau mengantarku ke dokter atau menginap di tempat kosku setiap sakitku kumat.

Pada 1985 aku lulus dengan nilai cukup baik, dan diangkat jadi guru di SMA Sindang Laut, Cirebon, Jawa Barat. Sebulan di sana, sebelum sempat prajabatan, aku sudah tak kuasa menahan sakit. Aku pulang ke Sumedang. Begitu turun dari mobil, aku jatuh, lalu diboyong ke rumah. Sejak itu, tidak bisa berjalan lagi. Aku, Een Sukaesih, lumpuh total.

Kalau orang bilang aku tegar, itu bohong! Orang tidak tahu, kalau tiap malam aku menangis terus sampai pagi datang. Aku menangisi cita-citaku yang diterbangkan waktu, menjauh dariku, dan meninggalkanku teronggok di pembaringan. Masih ada lagi ujian untukku. Karena berbaring terus, punggungku lecet parah hingga uratnya keluar. Berbulan-bulan itu berlangsung hingga akhir 1987 kondisiku membaik. Adikku yang setia mengurusiku. Sungguh mulia hatinya. Begitu juga Ibuku.

Een kemudian berusaha ikhlas menerima penyakitnya dan kondisinya. Tapi ia terus berdoa memohon kesembuhan dari-Nya. Ia putar otak untuk mengisi waktunya yang hening dengan sesuatu yang bermanfaat. Doanya pun terjawab. Dari mengajar anak kerabat dan keponakannya membuatkan pekerjaan rumah, kini anak-anak tetangga berjumlah puluhan orang menjadi ‘murid’nya. Tanpa memungut bayaran alias gratis. Untuk dedikasinya pada pendidikan.

Een memperoleh sejumlah penghargaan, di antaranya Dompet Dhuafa Award 2010, lalu Education Award dari Bank Syariah Mandiri (BSM), lalu dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Kartini Award 2012 dan Tupperware She Can! untuk karya inspiratifnya. Dan baru sabtu kemarin(26/5/2013) Een mendapakan Inspiring Award dari Liputan 6.


Jika anda ingin membaca kisah nyata lainnya, silahkan klik disini.
Sumber :  facebook.com

Bocah Penjual Bakso


Siti, seorang bocah yatim yang ditinggal mati ayahnya sejak usia 2 tahun. Kini Siti berumur 7 tahun. Sehari-hari sepulang sekolah Siti masih harus berkeliling kampung menjajakan bakso. Karena ia masih anak-anak, tentu belum bisa mendorong rombong bakso. Jadi bakso dan kuahnya dimasukkan dalam termos nasi yang sebenarnya terlalu besar untuk anak seusianya. Termos seukuran itu berisi kuah tentu sangat berat.

Tangan kanan menenteng termos, tangan kiri menenteng ember plastik hitam berisi mangkok-mangkok, sendok kuah, dan peralatan lain. Dengan terseok-seok menenteng beban seberat itu, Siti harus berjalan keluar masuk kampung, terkadang jalanannya menanjak naik. Kalau ada pembeli, Siti akan meracik baksonya di mangkok yang diletakkan di lantai. Maklum ia tak punya meja. Terkadang jika ada anak yang membeli baksonya, Siti ingin bisa ikut mencicipi. Tapi ia terpaksa hanya menelan ludah, menahan keinginan itu. Setelah 4 jam berkeliling, ia mendapat upah 2000 perak saja! Kalau baksonya tak habis, upahnya hanya Rp. 1000,- saja. Lembaran seribuan lusuh berkali-kali digulung-gulungnya.

Sampai di rumah, Siti tak mendapati siapapun. Ibunya jadi buruh mencangkul lumpur di sawah milik orang lain. Tak setiap hari ia mendapat upah uang tunai. Terkadang ia hanya dijanjikan jika kelak panenan berhasil ia akan mendapatkan bagi hasilnya. Setiap hari kaki Ibunda Siti berlumur lumpur sampai setinggi paha. Ia hanya bisa berharap kelak panenan benar-benar berhasil agar bisa mendapat bayaran.

Hari itu Siti ingin bisa makan kangkung. Ia pergi ke rumah tetangganya, mengetuk pintu dan meminta ijin agar boleh mengambil kangkung. Meski sebenarnya Siti bisa saja langsung memetiknya, tapi ia selalu ingat pesan Ibunya untuk selalu minta ijin dulu pada pemiliknya. Setelah diijinkan, Siti langsung berkubang di empang untuk memetik kangkung, sebatas kebutuhannya bersama Ibunya. Petang hari Ibunya pulang. Siti menyerahkan 2000 perak yang didapatnya. Ia bangga bisa membantu Ibunya. Lalu Ibunya memasak kangkung hanya dengan garam. Berdua mereka makan di atas piring seng tua, sepiring nasi tak penuh sepiring, dimakan berdua hanya dengan kangkung dan garam. Bahkan ikan asin pun tak terbeli, kata Ibunda Siti.

Bayangkan, anak sekecil itu, pulang sekolah menenteng beban berat jualan bakso keliling kampung, tiba di rumah tak ada makanan. Kondisi rumahnya pun hanya sepetak ruangan berdinding kayu lapuk, atapnya bocor sana-sini. Sama sekali tak layak disebut rumah. Dengan kondisi kelelahan, dia kesepian sendiri menunggu Ibunya pulang hingga petang hari.

Sering Siti mengatakan dirinya kangen ayahnya. Ketika anak-anak lain di kampung mendapat kiriman uang dari ayah mereka yang bekerja di kota, Siti suka bertanya kapan ia dapat kiriman. Tapi kini Siti sudah paham bahwa ayahnya sudah wafat. Ia sering mengajak Ibunya ke makam ayahnya, berdoa disana. Makam ayahnya tak bernisan, tak ada uang pembeli nisan. Hanya sebatang kelapa penanda itu makam ayah Siti. Dengan rajin Siti menyapu sampah yang nyaris menutupi makam ayahnya. Disanalah Siti bersama Ibunya sering menangis sembari memanjatkan doa. Dalam doanya Siti selalu memohon agar dberi kesehatan supaya bisa tetap sekolah dan mengaji. Keinginan Siti sederhana saja : bisa beli sepatu dan tas untuk dipakai sekolah sebab miliknya sudah rusak.


Sumber : facebook.com

Keikhlasan Sang Tukang Sol Sepatu


Keikhlasan Sang Tukang Sol Sepatu - Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Cuaca hari ini sangat sangat panas. Mbah sarno terus mengayuh sepeda tuanya menyisir jalan perumahan condong catur demi menyambung hidup.

Mbah sarno sudah puluhan tahun berprofesi sebagai tukang sol sepatu keliling. Jika orang lain mungkin berfikir “mau nonton apa saya malam ini?”, mbah sarno cuma bisa berfikir “saya bisa makan atau nggak malam ini?”

Di tengah cuaca panas seperti ini pun terasa sangat sulit baginya untuk mendapatkan pelanggan. Bagi mbah sarno, setiap hari adalah hari kerja. Dimana ada peluang untuk menghasilkan rupiah, disitu dia akan terus berusaha. Hebatnya, beliau adalah orang yang sangat jujur. Meskipun miskin, tak pernah sekalipun ia mengambil hak orang lain.

Jam 11, saat tiba di depan sebuah rumah mewah di ujung gang, diapun akhirnya mendapat pelanggan pertamanya hari ini. Seorang pemuda usia 20 tahunan, terlihat sangat terburu-buru.

Ketika mbah sarno menampal sepatunya yang bolong, ia terus menerus melihat jam. Karena pekerjaan ini sudah digelutinya bertahun-tahun, dalam waktu singkat pun ia berhasil menyelesaikan pekerjaannya.

“Wah cepat sekali. Berapa pak?”

“5000 rupiah mas”

Sang pemuda pun mengeluarkan uang seratus ribuan dari dompetnya. Mbah sarno jelas kaget dan tentu ia tidak punya uang kembalian sama sekali apalagi sang pemuda ini adalah pelanggan pertamanya hari ini.

“Wah mas gak ada uang pas ya?”

“Nggak ada pak, uang saya tinggal selembar ini, belum dipecah pak”

“Maaf mas, saya nggak punya uang kembalian”

“Waduh repot juga kalo gitu. Ya sudah saya cari dulu sebentar pak ke warung depan”

“Udah mas nggak usah repot-repot. Mas bawa dulu saja. Saya perhatikan mas lagi buru-buru. Lain waktu saja mas kalau kita ketemu lagi.”

“Oh syukurlah kalo gitu. Ya sudah makasih ya pak.”

Jam demi jam berlalu dan tampaknya ini hari yang tidak menguntungkan bagi mbah sarno. Dia cuma mendapatkan 1 pelanggan dan itupun belum membayar. Ia terus menanamkan dalam hatinya, “ikhlas. Insya allah akan dapat gantinya.”

Ketika waktu menunjukkan pukul 3 lebih ia pun menyempatkan diri shalat ashar di masjid depan lapangan bola sekolah. Selesai shalat ia berdoa.

“Ya allah, izinkan aku mencicipi secuil rezekimu hari ini. Hari ini aku akan terus berusaha, selebihnya adalah kehendakmu.”

Selesai berdoa panjang, ia pun bangkit untuk melanjutkan pekerjaannya.

Ketika ia akan menuju sepedanya, ia kaget karena pemuda yang tadi siang menjadi pelanggannya telah menunggu di samping sepedanya.

“Wah kebetulan kita ketemu disini, pak. Ini bayaran yang tadi siang pak.”

Kali ini pemuda tadi tetap mengeluarkan uang seratus ribuan. Tidak hanya selembar, tapi 5 lembar.

“Loh loh mas? Ini mas belum mecahin uang ya? Maaf mas saya masih belum punya kembalian. Ini juga kok 5 lembar mas. Ini nggak salah ngambil mas?”

“Sudah pak, terima saja. Kembaliannya, sudah saya terima tadi, pak. Hari ini saya tes wawancara. Telat 5 menit saja saya sudah gagal pak. Untung bapak membiarkan saya pergi dulu. Insya allah minggu depan saya berangkat ke prancis pak. Saya mohon doanya pak”

“Tapi ini terlalu banyak mas”

“Saya bayar sol sepatu cuma rp 5000 pak. Sisanya untuk membayar kesuksesan saya hari ini dan keikhlasan bapak hari ini.”

Semoga bisa diambil hikmahnya. Sekian dan terima kasih atas kunjungannya. Wassalam

Sumber : facebook.com

Kisah Ibu bermata satu

Bismillahirrahmanirrahim
Ibuku hanya memiliki satu mata. Aku membencinya.

Dia sungguh membuatku menjadi sangat memalukan. Dia bekerja memasak buat para murid dan guru di sekolahku untuk menopang keluarga.

Ini terjadi pada suatu ketika aku duduk di sekolah dasar dan ibuku datang. Aku sungguh dipermalukan. Bagaimana bisa ia tega melakukan ini padaku? Aku membuang muka dan berlari meninggalkannya saat bertemu dengannya.
Al-Malikah, Kisah Pelacur yang Menjadi Ahli Surga

Al-Malikah, Kisah Pelacur yang Menjadi Ahli Surga


Suatu ketika di suatu negeri, hiduplah seoarang wanita bernama Al-Malikah. Dia adalah wanita tunasusila keturunan Bani Israil. Al-Malikah dikenal di negerinya sebagai pelacur kelas atas. Bayaran yang ia peroleh juga cukup tinggi.

Kecantikannya sangat terkenal sehingga banyak pemuda yang menyukainya. Tidak terkecuali seorang pemuda bernama Abid. Abid sebenarnya pemuda miskin yang taat ibadah. Namun kepopuleran paras cantik Al-Malikah di seantero negeri rupanya telah menggoda keimanan sang pemuda untuk mencoba menikmati kecantikan Al-Malikah.

Saat Iblis Bertamu Kepada Rasulullah SAW

Iblis Terpaksa Bertamu Kepada Rasulullah  SAW

(dari Muadz bin Jabal dari Ibn Abbas)

Ketika kami sedang bersama Rasulullah SAW di kediaman  seorang sahabat Anshar, tiba-tiba terdengar panggilan seseorang dari  luar rumah: “Wahai penghuni rumah, bolehkah aku masuk? Sebab kalian akan  membutuhkanku.”
Taubatnya Seorang Jagoan

Taubatnya Seorang Jagoan



Awal 1993
Aku lega, urusanku dengan pihak kepolisian tidak berlanjut lebih panjang lagi. Hal itu karena masalah tawuran di sekolah kami bisa diselesaikan dengan damai. Inilah pertama kalinya aku berurusan dengan polisi. Seorang siswa kelas 3 SMP, yang masih mengenakan celana pendek ketika sekolah, tapi sudah berani ikut tawuran. Masalahnya? Ah, aku sendiri lupa. Yang pasti, justru ada rasa bangga di hatiku. Orang tuaku tidak boleh tahu hal ini. Surat panggilan untuk mereka sudah kubuang jauh-jauh tadi.
loading...
Back To Top